Indah Ladya, Mimpi 9 Tahun yang Lalu
Mimpi 9 Tahun yang Lalu (sumber gambar: dokumentasi pribadi indahladya.com) |
Salah satu kelemahanku adalah menceritakan bagaimana kehidupan yang sudah
aku jalani selama ini. Kenapa? Rumit saja rasanya. Terlalu banyak pahit dan manis
yang telah aku rasakan, terutama selama pandemi kali ini, di masa PSBB jilid 2
kalau kata orang-orang.
Namun, mari kita mundur sedikit, ke suatu masa di mana nama Indah Ladya
baru saja hadir di kehidupanku saat ini. Banyak orang yang salah paham dengan
nama Indah Ladya ini. Beberapa di antaranya mengira bahwa ini nama kesayangan
dari orang tuaku, nyatanya tidak, nama panggilanku di rumah “Yayang”, karena
aku anak satu-satunya di keluarga kecilku ini.
Mungkin nama ini bisa jadi pembeda diriku dengan Indah-Indah yang lain.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indah merupakan nama sejuta umat, bukan?
Namun, tidak dengan nama Indah Ladya.
Aku masih ingat ketika aku menuliskan tanda di buku catatanku dengan nama
“Indah Ladya”. Ketika itu, ada satu orang yang melihat aku menuliskan nama
tersebut, lalu sontak berkata, “loh, Ndah, belum move on ya?”. Wah, aku yang kala itu setengah kaget malah jadi
bingung.
Namun, setelahnya aku tersadar. Aku memang sempat dekat dengan seseorang
yang juga memanggil aku dengan nama “Indah Ladya”, tetapi dia bukan
satu-satunya orang yang memanggil aku dengan nama tersebut. Namun, sepertinya
ia merupakan salah satu orang yang mempopulerkan nama tersebut. Tak heran, jika
orang lain berpikir bahwa nama ini adalah hadiah darinya. Nyatanya tidak, sih.
Personal Branding
Personal Branding (sumber gambar: dokumentasi pribadi indahladya.com) |
Nama Indah Ladya ini aku buat ketika aku masih tenggelam dalam dunia alat
musik kala itu. Penginnya sih sok-sokan bikin nama yang senada dengan melodi
dan kawannya-kawannya. Namun, ternyata sepertinya nama Indah Ladya ini gak ada
unsur-unsur musiknya sama sekali.
Aku gunakan nama ini ketika membuat akun instagram saat SMA, tetapi
teman-temanku saat itu tidak banyak yang peduli kenapa aku harus menggunakan
nama ini. Seems like nothing special.
Berbeda kisahnya ketika aku memutuskan untuk menjadi murid pindahan di SMA
baruku, seolah semua orang mengenal diriku sebagai Indah Ladya, bukan Indah Permata
Sari. Aku saat itu sebenarnya heran, kenapa disini aku lebih dikenal sebagai
Indah Ladya.
Namun, hal ini justru membuat aku memutar otak, bahwa ternyata nama Indah
Ladya gak seburuk itu. Aku memutuskan untuk membuat nama sosial mediaku yang
lain dengan nama Indah Ladya juga, mulai dari twitter, id line, dan website-ku yang saat itu masih
menggunakan domain blogspot.com.
Penulis Amatiran
Penulis Amatiran (sumber gambar: dokumentasi pribadi indahladya.com) |
Kalau dulu sewaktu masih kecil aku selalu ditanya “mau jadi apa besarnya?”,
aku selalu semangat menjawab “mau jadi dokter”. Meskipun nyatanya sekarang aku
bukan seorang dokter, tetapi farmasis adalah pekerjaan yang masih dekat dengan
dunia kedokteran, bukan?
Aku bukan korban ketidaklulusan program studi kedokteran yang harus banting
setir ke dunia farmasi, karena aku sudah memilih program studi farmasi ini dari
awal proses SNMPTN dimulai, tanpa paksaan dari siapapun. Dan alhamdulillah, aku
berhasil lulus sebagai farmasis saat ini.
Namun, di tengah aku mengejar cita-cita ini, sempat terpikir olehku untuk
menjadi seorang penulis. Tidak heran, karena aku adalah anak yang “dear
diary” banget. Aku sudah terbiasa menulis buku diary sejak SD, semua
perasaan pada hari itu aku tuangkan dalam buku diary tersebut. Menjelang SMP,
aku memberanikan diri untuk ikut beberapa lomba menulis cerpen, dan menang.
Sejak saat itu, aku percaya bahwa menulis merupakan salah satu passion yang
harus aku kembangkan.
Aku mulai memasuki dunia blogspot semenjak SMP, karena kebetulan punya
teman dekat yang sama-sama suka menulis. Meskipun isi website-ku pada saat itu sangat receh, tetapi aku ingat bahwa ini
merupakan titik awal di mana aku semakin mencintai dunia kepenulisan.
Sayangnya, hal ini tidak bertahan lama. Aku berulang kali “putus-nyambung” dengan dunia
kepenulisanku, karena aku terlalu academic-oriented.
Saat itu aku hanya berani bermimpi untuk menjadi seorang penulis profesional
tanpa mencari cara bagaimana yang sebenarnya harus dilakukan agar bisa menjadi
penulis profesional tersebut.
Aku pernah 3 kali gonta-ganti website karena tragedi “putus-nyambung” tadi,
dan isinya tetap saja receh. Aku tidak memahami apa yang sebenarnya harus aku
lakukan ketika ingin membangun suatu personal
branding hingga aku dikenal sebagai “Indah Ladya, si blogger itu loh!”
Terima Kasih, Pandemi!
Terima Kasih Pandemi (sumber gambar: dokumentasi pribadi indahladya.com) |
Aku sangat berterima kasih karena sudah dipertemukan dengan pandemi tahun
ini. Meskipun tahun ini dikenal dengan tahun penuh kejutan, dan penuh tangisan
tentunya. Di balik semua tangisku karena balada sidang akhir online, yudisium online, dan tidak ada wisuda tentunya. Namun, ternyata aku jadi
memiliki kesempatan yang mungkin kalo gak pandemi gak bakal pernah aku
dapatkan.
Ketika aku melihat beberapa bulan ke belakang, ternyata sangat banyak kelas
online yang sudah aku ambil selama masa pandemi kali ini. Mulai dari kelas
bahasa Arab, kelas menulis, kelas copywriting,
kelas content writing, kelas blogging, bimbingan belajar profesi
apoteker, bahkan kelas TOEFL dan speaking.
Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan memiliki kesempatan untuk mengambil
sejumlah kelas yang sudah aku sebutkan tadi, yang semuanya merupakan hal yang
aku senangi.
Dari beberapa kelas ini aku dipertemukan dengan begitu banyak orang baik,
teman-teman yang baik, mentor yang baik, semuanya bagaikan support system bagiku. Aku selalu percaya bahwa kita dipertemukan
bukan tanpa sengaja, pasti ada pelajaran penting yang harus kita ambil dari
sana.
(sumber gambar: dokumentasi pribadi indahladya.com) |
"Jika aku punya kesempatan untuk berterima kasih kembali kepada orang-orang ini, aku akan mengucapkannya seribu kali lagi. Berterima kasih untuk semangatnya, untuk apresiasinya, dan berterima kasih karena sudah percaya pada mimpiku yang selama ini mungkin aku sendiri tidak percaya." - Indah Ladya
Sungguh virtual meeting yang
sangat mengesankan untuk beberapa bulan belakangan ini. Meskipun terkadang
rasanya sepi karena fokusku yang saat ini mesti bergeser ke studi profesiku
selanjutnya, yang berarti masa-masa kelas online-ku
harus berakhir juga.
Pandemi kali ini sudah mempertemukan aku dengan orang-orang baik, yang
membuat aku kembali percaya pada mimpi masa kecilku. Kalau pun nanti aku harus
pergi jauh, jauh dari dunia kepenulisan ini, tenggelam dengan kesibukanku
nanti, aku berjanji untuk kembali kesini, karena ada mimpi yang belum
terselesaikan.
Semangat, Indah Ladya! Percayalah, dalam beberapa tahun ke depan kamu akan
dikenal sebagai Indah Ladya yang ntah berkecimpung di dunia kepenulisan mana,
fiksi ataukah non fiksi, novelis ataukah blogger.
Namun, yang pasti kamu adalah seorang Indah Ladya, seorang penulis yang sangat
bahagia, karena kamu berhasil mendapatkan “hobi yang dibayar” itu, mimpi 9
tahun yang lalu.
Author : Indah Ladya
Genre : Article
#OneDayOnePost
#ODOP
#ODOPChallenge3
Meski pandemi adalah musibah, tapi bisa disyukuri karena bertemu dengan orang-orang yang memiliki kegiatan sama meski lewat dari.
BalasHapusTetap semangat Kak Indah.
iya mbak, selalu ada hikmah di balik suatu musibah :)
HapusSemangat Kak "Indah Ladya"!
BalasHapusSungguh, pertanyaan yang menari-nari di otakku selama ini terpecahkan juga. Yaps! Asal mula nama "Indah Ladya".
Seperti namanya,kupercaya Kak Indah akan tetap indah di manapun kau berada.
wah, terima kasih mbak sudah penasaran, hehe, alhamdulillah tulisannya tepat sasaran jadi ya :)
Hapussemangat juga buat mbaknya!